Diskursus seputar upaya integrasi
ilmu belakangan ini banyak dilakukan seiring dengan keinginan sebagian besar
umat Islam untuk bangkit mengejar ketertinggalannya di berbagai bidang
kehidupan. Dikotomi ilmu; agama dan umum, dunia dan akhirat, dianggap sebagai
pangkal penyebabnya. Sejatinya, dikotomi ilmu dalam tradisi keilmuan Islam
bukanlah hal baru. Dalam karya-karya klasik Islam telah dikenal dikotomi ilmu,
seperti yang dilakukan al-Ghazali (1111 M) dengan membagi ilmu kepada ilmu syar’iyyah
dan ghayr syar’iyyah, atau Ibnu Khaldun (w. 1406 M) yang membaginya
dengan istilah al-‘ulËm al-naqliyyah dan al-‘ulËm al-‘aqliyyah.
Dikotomi ini masih dapat ditolerir mengingat para ulama dan ilmuwan saat itu
tetap mengakui validitas dan status ilmiah masing-masing, sehingga tidak jarang
ada ulama yang menguasai dua bidang keilmuan itu sama baiknya. Sekadar menyebut
contoh; Jabir Ibnu Hayyan (161 H/ 778 M), Al-Khawarizmi (235 H/ 850 M),
Al-Kindi (252 H/878 M), Abu Bakar al-Razi (320 H/ 925 M), Ibnu al-Haitsam (430
H), Ibnu Sina (438 H), Al-Bairuni (440 H/ 1048 M), Ibnu Nafis (678 H/1296 M)
dan Ibnu Khaldun (808 H/ 1406 M). Barat, seperti diakui banyak pihak, sangat
berhutang budi kepada mereka dalam soal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang mereka capai di berbagai bidang saat ini.
Tetapi belakangan, seiring dengan
masuknya sistem pendidikan sekuler ke dunia Islam melalui imperialisme,
dikotomi ilmu tersebut menimbulkan persoalan baru dengan dampak yang begitu
dahsyat, yaitu dominasi ilmu-ilmu modern (baca sains) atas ilmu-ilmu agama,
bahkan terkesan ada pengingkaran atau perlakuan rendah terhadap ilmu-ilmu
agama. Ironisnya, dikotomi model ini melembaga dalam sistem pendidikan di
banyak negara Muslim yang diperkenalkan dalam bentuk lembaga pendidikan agama
yang biasanya didukung sebagian besar masyarakat dan sekolah umum yang banyak
didukung oleh pemerintah.
Kondisi semacam ini tidak boleh
dibiarkan berlarut lama, sebab selain akan semakin menambah keterpurukan
kondisi umat Islam, juga akan menimbulkan problem teologis. Al-Qur’an dan
hadis, sebagai sumber pokok ajaran Islam, memerintahkan umat Islam untuk
menguasai ilmu agar dapat beragama dan menjalankan misi sebagai khalifah Tuhan
di muka bumi dengan baik. Hal itu sangat memungkinkan, karena alam yang menjadi
obyek sains, dan teks-teks keagamaan (Al-Qur’an dan hadis) yang menjadi obyek
ilmu agama, keduanya bersumber dari Allah swt. Upaya integrasi keduanya dapat
menjadi tawaran solutif bagi kegagalan sains sekuler dalam memaknai peran
manusia di alam raya. Semangat positivisme dan sekularisme yang mendasari sains
modern telah mencabut manusia dari akar-akar spiritualitas. Akibatnya,
mencuatlah konsep sains dan manusia yang terbagi-bagi (atomized).
Semangat integrasi dapat kita
temukan dengan menelusuri pandangan Al-Qur’an tentang obyek, sumber dan tujuan
ilmu pengetahuan, tentunya sesuai dengan pemahaman penulis. Selain itu dalam
Al-Qur’an kita juga dapat menemukan prinsip-prinsip nilai yang memungkinkan,
bahkan mengharuskan, upaya integrasi tersebut. Inilah yang akan penulis lakukan
dalam paparan dan tulisan sederhana ini.
Objek dan Tujuan Ilmu Pengetahuan
Apresiasi Al-Qur’an terhadap ilmu
tidak hanya tergambar dalam penyebutan kata al-‘ilm dan derivasinya yang
mencapai 854 kali, tetapi terdapat sekian ungkapan yang bermuara pada kesamaan
makna seperti al-‘aql, al-fikr, al-naÐr, al-baÎar, al-tadabbur,
al-i’tibÉr dan al-dhikr. Kendati Al-Qur’an bukan buku ilmiah, tetapi
tidak satu ayat pun di dalamnya yang menghambat perkembangan ilmu pengetahuan.
Bahkan terdapat hampir 750 ayat yang bersinggungan, secara langsung atau tidak,
dengan berbagai bidang keilmuan seperti kosmologi, kedokteran, geologi dan
sebagainya.
Kata al-‘ilm dan
derivasinya, menurut pakar Al-Qur’an Raghib al-Ashfahani, bermakna pengetahuan
akan hakikat sesuatu. Padanannya adalah al-ma’rifah. Kendati keduanya
bermakna pengetahuan tetapi para pakar bahasa Arab menggunakan kata al-ma’rifah
sebagai ungkapan untuk pengetahuan yang diperoleh melalui proses pemikiran
dan perenungan terhadap gejala atau fenomena sesuatu yang dicermati. Karena itu
dalam bahasa Arab pengetahuan Tuhan akan makhluk-Nya digambarkan dengan
ungkapan ‘alima, bukan ’arafa. Sebaliknya, pengetahuan manusia
akan Tuhannya diungkapkan dengan kata ‘arafa karena diperoleh melalui
perenungan terhadap tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar